Elsa Mora’s Flower Girls

I really admire her creative works with flower. Looky looky look, aren’t they cuuute?! ❤


Goodbye 2011!

So, 1,5 hours before midnight. Before 2012!
This year, these two quotes influence me so much:

“Marriages don’t come gift wrapped, they come in kit form, you have to work at them”, and
“Everyone is gifted – but some people never open their package”.

2012 will be a better year, happy new year everyone!


This Week’s Playlist

Aruite Ikou – Ikimonogakari
Kiyoe-san and the boys are back! This time with a very cute single cover: a rabbit and a turtle. Guess it’s related with the album title: “aruite ikou” means “let’s walk together”. But I miss to see them in the cover, like “Hana wa sakura, kimi wa utsukushii” or “Akaneiro Yakusoku”. They used to have eye-candy covers. Okay I’ll stop rambling, hahahaa. Anyway, the song is okay. “Aruite Ikou” is a sweet ballad, and Kiyoe voice is…flawless. I don’t think I can sing it on karaoke. And I really like the B-side track, “My Rain”. It has their classic sound, with acoustic guitar and harmonica.
Higlight: That first seconds when Kiyoe sing: “Boku wa ima wo ikite yuku yooo”. Nanka kawakakkoi.

JYJ – In Heaven
So here they come, the Korean crying elephant. Spare me the drama and just listen to this album. I just want to give my applause to the boys because this album is amazing. JYJ without a doubt has one of the best vocal harmonization I’ve ever heard. And, as much as I love this album, I can feel the sadness, anger and angst through In Heaven (actually I was hoping to hear some positive, bright songs. Yes I’m that selfish). But that’s okay. They had been through a lot of things, and this is their way to express their feeling. My fave songs will be: “Get Out”, “In Heaven” and “Fallen Leaves”.
Highlight: Junsu and Jaejong’s part on “In Heaven” when they scream: “Jebal dorawajweoooo!!”. EARGASM! And make sure to check out Yoochun’s rap on “You’re”, he sounds awesome. I really wish they didn’t bleep his F-word on “Get Out”, though. That was epic.


The Castle in the Pyrenees (Jostein Gaarder)

A tragedy, long lost lover and how your past memories could play tricks on you..

I love how this book makes me keep questioning about the way I see the reality of life: “Nowadays we’re constantly fooled into believing that our own ego is the very centre of the universe. But isn’t that a very exhausting way to live?”. I could really feel relate to Steinn and Solrunn. I believe that my past made me who I am now.


Uninspired

The weather lately has been quite unfriendly (sigh). Overcast skies and rain should be inspiring, but right now they only make me drowsy, gloomy and here I am reading some unfinished book. I’ll be back soon, internet. Zzzzz.

note: that cute baby owl is from here


Tentang Kejutan

Topic #285 on dailypost: do you like surprises?

kejutan ke.jut.an
[n] (1) segala yg menimbulkan kaget; guncangan; (2) segala yg munculnya tiba-tiba dan tidak diduga sebelumnya (sumber: kamusbahasaindonesia.org)

Jujur, dulu saya tidak suka kejutan. Saya terbiasa untuk memiliki jadwal yang tetap setiap harinya. Cenderung terobsesi, malah. Setiap pagi, sebelum beraktivitas, yang melintas di kepala saya adalah: “oke, jam 8 sudah di situ, jam 10 sudah mulai begini, dan jam 12 pastinya sudah beres begitu.” Kebiasaan ini mencapai puncaknya pada masa-masa paling sibuk seorang remaja Indonesia: SMA. Saat melihat jadwal harian dan target-target saya tertempel rapi di kulkas, salah seorang teman adik sampai berseru: “Aduh mbaaaak, dirimu go with the flow aja kenapa siih?!” Uh, oke.

Dulu, saya selalu menganggap kejutan itu penggangu. Mereka muncul dan bisa mengacaukan jadwal harian saya yang suci dan tertata rapi. Apalagi kalau harus menunggu seseorang yang terkenal ‘jam karet’. Teman-teman dekat saya sudah hapal betul kebiasaan saya ini. Jadi, kalau ada acara yang mengharuskan kami kumpul jam 8 pagi, si oknum yang suka telat ini lalu mengecek kondisi saya ke teman yang lain via SMS: “Duh gue bakal telat nih, si Ami udah ngegonggong ga?” Grrr… Kejutan seperti ini nih, bagi saya kayak mendung yang tiba-tiba muncul saat liburan di pinggir pantai, titik.

Nah, baru pada saat mulai kuliah saya sadar bahwa setiap harinya jadwal saya bisa dengan mudahnya dikacaukan oleh tangan-tangan lain yang jauh lebih berkuasa: jadwal kuliah yang bisa berubah, tiba-tiba harus menghadap senior (ospek jurusan saya lamanya satu semester lho, terima kasih), bis atau kereta yang tak kunjung datang (oh Indonesia), dan sebagainya. Di Jakarta, setiap hari adalah kejutan. Dan entah kenapa, lama-lama kejutan itu membuat hari jadi tidak membosankan. Saat sempat tinggal di Jepang, di mana segala sesuatunya serba pasti dan terjadwal, saya sedikit merindukan hiruk-pikuk khas Indonesia: setiap hari ada saja ‘kejutan-kejutan’ kecil yang mewarnai hidup (jiah).

Dan berkat pengalaman bekerja di sebuah media, saat deadline tiba-tiba berubah, pemotretan dibatalkan di saat terakhir, narasumber mendadak susah diwawancara, bla bla bla, saya jadi semakin akrab dengan yang namanya kejutan. Pelan-pelan, saya mulai bisa tertawa kalau ada teman yang ngaret (tapi tetap ada toleransi waktu maksimal setengah jam, hahaha), dan bisa memperlakukan kejutan layaknya teman. Kejutan datang untuk dikenang. Seperti kata Caroline Myss: you’ll never really know how or when your life is going to change, and that’s for the best.

ps. kini, setiap bangun tidur saya selalu berharap ada satu kejutan untuk satu hari. Beneran, nggak bohong hehe.


Oshibana #1

Okay! Dan sang amatiran ini ingin berbagi tentang hasil mengepress bunganya minggu lalu. Ta–daaa! Saya mengepress beberapa jenis bunga dan dedaunan dengan menggunakan teknik cardboard dari hanapotlesson. Hasilnya cukup lumayan, walau ada sejumlah bunga yang sedikit berubah warna, hiks. Mungkin karena saya tidak menyimpannya di ruangan yang hampa udara. Hmm.. noted for next batch!

Oh, dan saya menemukan buah aneh ini di butterfly park dekat rumah. Ada yang tahu namanya? It looks like a little green pumpkin.


Pasar Malam Denpasar

Menemukan sebuah puisi oleh: I Nyoman Wirata di sebuah koran lokal Bali. Saya suka nuansanya yang magis dan penggambaran karakter wanita Balinya yang sederhana namun kuat.

Tuhan dewa dan perempuan bertemu di pasar
Dalam sebuah hidangan bunga, dupa serta
Arak warna hitam dari beras ketan
Doa memanjat dari atas truk dan keranjang

Umbul-umbul bergambar iklan rokok
Besok akan ada pagelaran calonarang
Di menara bambu itu malam nanti
Durga akan turun dari teratak
Menjemput perempuan
Membangunkan kematian
Sebelum ajalnya tiba
Itulah sesungguhnya perayaan besar

Beringgitan janur dan bau keringat
Bau bunga dan kol busuk
Membalut tubuh-tubuh perempuan
Pemeluk agama bumi
Merayakan tubuh dengan subuh
Tanpa dibungkus kain tenun ikat

Ritual sekeping uang
Lalu pulang
Bukan sekedar bertandang tapi
Mengukir belulang
Menjadi sesaji
Serupa reringgitan janur yang dibuatnya

Ini lorong karmamarga
Perempuanlah yang menjaga
Hiruk pasar dan altar
Malamnya berubah menjadi batu hitam
Sujud dengan asap dupa dan tembang
Embang
Menjelma Durga


Hello, Puppies!

Recently, my cousin‘s dog gave birth to five little puppies (he told me that he himself helped Chiki gave birth in the middle of the night!). And today I got tagged through Facebook. Oh my! I can’t help myself to feel like: “aaawww they are sooo adorable!”, “me want puppy!” and “I wish I was still living close to them so I can adopt one!”

His sister then tweeted asking suggestion for their puppies names. I replied back some silly names like: Jupri, Juned, Jupe, Juleha and Ju… (err..I don’t remember!). But another cousin came up with this awesome idea to name them: Al, El, Dul, Tol and Ol. LOL!!!

Ps. anyone wants to adopt them (except that second from the right guy, he’s not for sale), please mention my cousin on @iDewaputu okay! Thanks guys.


押し花 (Oshibana)

Minggu lalu, gara-gara menemukan sebuah artikel mengenai Keeping A Diary and The Importance of Pressing Flowers di sini, saya jadi tertarik lagi untuk belajar jadi penadah eh, pengumpul bunga-bungaan kering (hihi). Kalau di Indonesia kita pernah belajar herbarium waktu SD, orang Jepang memiliki seni dan teknik pengepresan bunga yang bernama oshibana (oshi dari osu: tekan, bana dari hana: bunga).

Apa bedanya? Kalau herbarium, tumbuhan yang dikeringkan (biasanya dulu jenis pakis-pakisan, ya) cenderung berubah warna jadi cokelat, teknik dalam oshibana membuat bunganya tetap berwarna seperti aslinya. Karena, ini merupakan sebuah seni yang dikembangkan untuk menghargai alam. Jepang yang memiliki 4 musim tentunya memiliki keterbatasan waktu untuk menikmati indahnya berbagai macam bunga. Karena itu, oshibana diciptakan agar mereka misalnya, tetap dapat menikmati keindahan bunga musim semi walaupun di luar sedang bersalju. Ararara..

Dulu, saya pernah belajar sebentar mengenai teknik merangkainya. Cuma, karena kurang mendalam, sampai sekarang saya masih penasaran untuk mencoba mengawetkan macam-macam bunga, khususnya bunga-bunga tropis di Indonesia (okay, sounds ambitious already!) Oya, ini foto kenangannya. Saya membuat beberapa pembatas buku. Nggak jelek-jelek amat kan? Ehm.

Setelah browsing kesana kemari, saya akhirnya menemukan video ini dari akun hanapotlesson yang sangat informatif bagi para pemula. Yayness. Ada juga situs milik artis Sugino Nobuo ini yang menampilkan berbagai contoh oshibana dalam pigura. Cantik-cantik! Ah, jadi tambah bersemangat untuk mengumpulkan bunga, haha. Minggu lalu waktu jogging pagi, saya berhasil mencuri gambar ini dari kebun tetangga. Lovely, isn’t it? Kira-kira diijinkan nggak ya, untuk dipetik beberapa?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.